Jurus(kurang)Jitu FKUIN Jakarta-RSUP Fatmawati

Sebuah catatan singkat selama menjalani koas, lebih lengkapnya silahkan cek di Youtube kanal Abdihilap.com

Video abdihilap

Temukan lebih banyak video hanya di kanal abdihilap.com di Youtube

Pages

Rabu, 05 Februari 2014

MENGINGAT BAHWA KEHIDUPAN HANYALAH SEMENTARA



Puji syukur selalu kita panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya kita dapat berkumpul di ruangan ini dalam keadaan sehat wal’afiat. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita nabi besar Muhmmad SAW.

Dalam kesempatan kali ini, sesuai dengan ayat Al-Quran dan Hadits yang saya bacakan di awal,  saya akan menyampaikan ceramah yang berjudul “Mengingat bahwa Kehidupan Hanyalah Sementara”.

Al-Qur'an telah menerangkan bahwa kehidupan di dunia ini adalah bagaikan sebatang pohon yang tumbuh, berkembang, berbuah, layu dan akhirnya mati musnah di telan bumi.1 Dunia hanya dijadikan tempat persinggahan manusia sebelum masuk ke alam akhirat baik neraka ataupun surga. Nabi Muhammad SAW menegaskan dengan mengibaratkan seperti seorang pengembara, yang sedang berjalan menuju tempat tujuannya.2 Ia hanya sekedar lewat dan tidak akan mungkin menetap. Pengembara ini perlu mempersiapkan bekalnya agar bisa sampai ke tempat tujuannya. Selama mengembara, tentu ia akan mendapatkan banyak ujian dan cobaan. Oleh karena itu, untuk bisa selamat sampai ke negeri tujuannya, ia harus benar-benar waspada dan menjauhi segala perkara yang bisa membinasakannya.3

“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (Hadits shohih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari)

Kehidupan kita di dunia sangat mirip dengan situasi ketika menunggu sebuah kereta di sebuah stasiun. Sebelum bisa menaiki kereta yang akan membawa kita ke tujuan maka kita perlu membeli sebuah tiket yang disebut karcis. Untuk membeli karcis itu dalam kehidupan nyata kita memerlukan sejumlah uang, dan uang kita untuk masuk ke surga Allah SWT berupa pahala-pahala. Selama waktu menunggu kedatangan kereta yang menjemput, kesempatan untuk memperoleh pahala sedang terbuka selebar-lebarnya.4
 
Jika kita di sebuah stasiun dan tidak memiliki uang, hanya ada dua jalan, pertama melakukan perbuatan baik seperti menolong orang, berjualan sesuatu atau menyediakan jasa membawa barang demi mendapatkan uang untuk membeli tiket, atau yang kedua yaitu melakukan kesempatan dengan melakukan perbuatan buruk seperti mencuri yang membawa dosa dan membuatnya harus mendekam di sebuah tahanan. Untuk mendapat pahala sebanyak-banyaknya manusia dapat melakukan amalan ibadah seperti sholat, puasa, zakat, sedekah, dan sebagainya selama hidup. 4
 
Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak..( QS. Al- Hadid : 20) 

Imam Najmuddin an-Nasafi menafsirkan bahwa manusia akan mengalami beberapa fase kehidupan, yaitu5 :
§   
  1. La'ibun, fase pertama dari kehidupan manusia selama berumur 1-8 tahun yang berisikan permainan.
  2. Lahwun adalah sifat lalai yang terdapat dalam diri manusia, lalai karena tidak terbiasa berpikir panjang atau sengaja tidak mau berpikir panjang. Inilah sifat ketika remaja berumur 9-16 tahun.
  3.  Zinatun, bahwa dunia ini adalah perhiasan semata, anak manusia selalu ingin tampil mengagumkan. Fase ini antara umur 17-24 tahun. 
  4.   Tafakhurun baynakum artinyadunia menjadi tempat untuk saling bermegah-megahan dan  saling menyombongkan diri. Fase ini antara umur 25-32 tahun 
  5. Takatsurun fil amwal, bahwa dunia ini adalah tempat memperbanyak harta dan keturunan. Inilah puncak dari fase kehidupan manusia ketika berumur 33 tahun dan seterusnya. 
  6. Takatsurun fil aulad, fase ini merupakan kelanjutan dari fase sebelumnya. Umur empat puluh tahun ke atas adalah masa yang wajar seseorang mulai memperhatikan kepentingan anak dan cucu-cucunya.

Di dunia kedokteran dan psikologi juga dijelaskan fase kehidupan manusia menurut Erik Homburger Erikson, yaitu6 :
  1. §  Tahap Bayi (Infancy): Sejak lahir hingga usia 18 bulan
  2. §  Tahap Kanak-Kanak Awal (Early Childhood): 18 Bulan hingga 3 tahun
  3. §  Tahap Usia Bermain (Play Age): 3 hingga 5 tahun
  4. §  Tahap Usia Sekolah (School Age): Usia 6 – 12 tahun
  5. §  Tahap Remaja (Adolescence): Usia 12 hingga 18 tahun
  6. §  Tahap Dewasa Awal (Young Adulthood): Usia 18 hingga 35 tahun
  7. §  Tahap Dewasa (Middle Adulthood): Usia 35 hingga 55 atau 65tahun
  8. §  Tahap Dewasa Akhir (Late Adulthood): Usia 55 atau 65 tahun hingga mati

Ketika telah dewasa dan menjadi kuat, banyak manusia yang lupa asal kejadiannya. Ia menjadi sombong dan bangga dengan kemampuannya. Ia merasa bahwa semua yang didapat dan dimilikinya adalah karena kemampuan dan hasil kerja keras dirinya. Ia lupa pada Allah yang telah menjadikannya dari keadaan lemah, kemudian menjadi dewasa dan kuat. Ketika kuat dan berjaya ia lupa, bahwa kelak Allah akan menjadikannya tua dan lemah kembali.4 Kedua pendapat tersebut menyatakan bahwa manusia akan selalu mengalami pergantian fase dalam kehidupannya sehingga membuktikan bahwa kehidupan di dunia tidaklah kekal.

Hikmah yang bisa diambil dari ceramah “Mengingat bahwa Kehidupan Hanyalah Sementara” diantaranya :
  • §  Membuat kita senantiasa mempersiapkan diri dalam menghadapi kematian sebelum benar datang
  • §  Mencegah kita dari perbuatan kejahatan, mendorong kita senantiasa bertobat kepada Allah dan memperbaiki diri dari kesalahan dan dosa
  • §  Membuat diri kita cinta terhadap akhirat dan mendorong kita untuk senantiasa taat kepada Allah dan Rosul-Nya.
Semoga ceramah yang singkat ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Jika dalam penyampaian kultum ini ada kesalahan yang menyinggung perasaan, saya mohon maaf dan kepada Allah SWT saya mohon ampun. 

Akhir kata saya ucapkan, wabillahitaufik wal hidayah wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarokatuh.

DAFTAR PUSTAKA

  • Al-Quran Surat Al-Hadid ayat 20
  • Hadits Shahih Riwayat Bukhari
  • Hasan NY. Kehidupan adalah Kesenangan yang Menipu. [online] Jakarta. 2009.[Diakses tanggal 02 Februari 2014]. Berasal dari : www.quransunnah.com
  • Abdullah G. Hikmah selalu Mengingat Kematian.  Bandung : Yayasan Darut Tauhid, 2005.
  • NU Online. Fase Kehidupan di Dunia. [online] Jakarta. 2013.[Diakses tanggal 02 Februari 2014]. Berasal dari : www.nu.or.id
  •  Agustiani, Hendriati. Psikologi Perkembangan. Bandung : Refika Aditama. 2009

Rabu, 01 Januari 2014

KANAL YOUTUBE ABDIHILAP.COM

1. HEBOH !! SEBUAH SURAT BERHASIL DITEMUKAN DARI TAHUN 2070 DI FAKULTAS     KEDOKTERAN (FK) UIN JAKARTA


2. JURUS-JITU KOAS FKUIN-RSUP FATMAWATI



3. FAKULTAS KEDOKTERAN (FK) UIN JAKARTA

4. FK UIN (DEP.KADERISASI BEMJ PD)


5. PENYAKIT TBC PADA WARGA FK UIN JAKARTA


6. FILM EMPATI DI FAKULTAS KEDOKTERAN UIN JAKARTA TAHUN 2009




7. BELAJAR SINGKAT RADIOLOGI FK UIN JAKARTA

8. FK UIN JAKARTA



----------------------------------------------------------------------------------------------------------Baca juga artikel lain :

Biaya Kuliah Fakultas Kedokteran
Virus Jahat Yang Wajib Dikenali Sebelum Skripsi
Fakultas Kedokteran di Indonesia
Pre-Klinik FK UIN Jakarta
Klinik FK UIN Jakarta
Pilihan Spesialis di Kedokteran
Ikatan Alumni Dokter UIN Jakarta
Departemen Kaderisasi BEMJ Pendidikan Dokter UIN Jakarta 
Alasan Jadi Dokter ?
Standar Kompetensi Dokter Muslim UIN Jakarta
Masuk Susah, Keluar (juga) Susah





Minggu, 13 Januari 2013

SEMUA IAIN DAN STAIN (SEHARUSNYA) JADI UIN

Sementara ini baru ada 6 UIN di seluruh Indonesia. K e enam UIN itu, satu di antaranya semula berupa STAIN dan selebihnya berupa IAIN. Perubahan itu memerlukan waktu yang cukup lama, lewat berbagai diskusi, dialog, seminar dengan perdebatan panjang, antara mereka yang menyetujui perubahan dan mereka yang ingin bertahan tetap sebagaimana semula.
 
Berbagai perdebatan tersebut saya mengikutinya. Mereka yang menghendaki adanya perubahan didasarkan atas pengalaman panjang bahwa dengan bentuknya semula, yaitu STAIN atau IAIN,maka seolah-oilah kajian Islam itu terbatas. Islam dianggap hanya menyangkut hal-hal yang sifatnya ritual, padahal yang dipahami tidak begitu. Islam oleh orang-orang yang menghendaki perubahan ketika itu, dipandang sebagai ajaran yang luas, menyangkut semua bidang kehidupan.

Sedangkan bagi mereka yang menginginkan agar tidak ada perubahan, rupanya selain tidak mau menghadapi tantangan yang sulit diselesaikan, mereka khawatir, ------- dengan perubahan itu, peminat fakultas atau jurusan agama menyusut dan bahkan menjadi mati. Mereaka ini memandang bahwa yang masuk kategori fakultas atau jurusan agama adalah fakultas atau jurusan syari’ah, ushuluddin, dakwah, adab dan tarbiyah. Selain itu, tidak dianggap sebagai bagian dari agama. 

Pandangan seperti itu muncul oleh karena, mereka belum berhasil membedakan antara agama dan Islam. Islam dianggap sebatas agama. Padahal jika dikaji secara sepintas saja dari al Qur’an maupun sunnah rasul, bahwa Islam bukan sebatas agama. Islam adalah agama dan sekaligus peradaban yang luas. Islam berbicara tentang ilmu pengetahuan, Sumber Daya Manusia Unggul, keadilan, dan amal shaleh atau amal yang seharusnya dilakukan secara shaleh, atau dalam bahasa sederhananya adalah bekerja secara professional. 

Manakala Islam hanya dipahami dari aspek agama saja, maka tatkala berbicara tentang Islam, gambaran yang muncul adalah pembicaraan tentang tempat ibadah, jenis-jenis ritual, upacara kelahiran, pernikahan, kematian dan sejenisnya. Selain itu, yang tergambar sebagai representasi sebutan agama -----jika di tingkat desa, adalah jabatan modil, kepala KUA dan serupa dengan itu. Padahal, ajaran Islam ketika dilihat dari kitab suci dan tradisi kehidupan Nabi Muhammad tidak sebatas itu. Peran Nabi Muhammad, sama sekali bukan sebagaimana peran para modil di desa-desa Jawa.

Bagi mereka yang menyetujui perubahan STAIN dan IAIN menjadi UIN, membayangkan bahwa Islam akan menjadi sangat luas. Berbicara Islam sama halnya akan berbicara tentang ilmu pengetahuan, manusia, alam, penciptaan dan konsep tentang keselamatan. Bahwa pengetahuan dalam Islam bersumber pada ayat-ayat qawliyah dan sekaligus ayat-ayat kawniyah. Wilayah ilmu pengetahuan dalam Islam dipandang sangat luas, menyangkut pengetahuan yang bersifat ghaib yang tidak mungkin dikenali oleh panca indera, maupun ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui observasi, eksperimentasi dan penalaran logis. 

Ketika menjadi UIN, maka para dosen dan mahasiswanya akan belajar di laboratorium, perpustakaan, ruang kuliah dan juga melakukan observasi, dan juga merenung untuk mencari jawab problem-problem akademik yang dihadapi. Mereka juga berdiskusi, berdialog dan bahkan beredebat atas hasil temuan-temuannya di lapangan ataupun hasil-hasil pemikirannya. Dalam mencari kebenaran mereka menggunakan cara berpikir bayani, burhani dan irfani. Dengan demikian, maka universitas Islam negeri akan menjadi tempat bertemunya para ilmuwan mencari kebenaran lewat berbagai pendekatan yang luas. Para mahasiswa belajar menjadi seorang ilmuwan di tempat itu. 

Gambaran indah tersebut, sekarang sedikit banyak, ------dengan kekurangan dan kelebihannya, telah berhasil diwujudkan melalui 6 UIN. Di kampus-kampus tersebut telah diperbincangkan al Qur’an dan as sunnah nabi serta temuan-temuan ilmiah, seperti bioologi, fisika, kimia, sosiologi, pskologi, filsafat dan lain-lain, tanpa meninggalkan tradisi semula, yaitu mengkaji ilmu-ilmu syari’ah, ushuluddin, tarbiyah, dakwah dan adab. Dengan demikian, maka Islam tidak lagi dipahami sebatas dari sudut ritualnya, melainkan ritual atau agama dan sekaligus peradaban yang luas itu. Saya pernah mendengar, bahwa dari UIN lahir seorang dokter yang mampu memahami al Qur’an dan bahkan hafal beberapa juz. Demikian pula dari UIN lainnya, mereka lulus dari jurusan fisika, kimia, biologi, ekonomi, psikologi, humaniora, tetapi mampu memahami secara mandiri kitab suci dan hadits nabi dalam bahasa Arab. 

Memang tanpa menutup mata, selama in i masih ada kelemahan dan kekurangan yang dialami dan dirasakan dari perubahan itu. Akan tetapi, di balik itu telah dihasilkan prestasi yang luar biasa. Selama ini, saya menganggap bahwa perubahan STAIN dan beberapa IAIN menjadi UIN adalah merupakan pilot proyek besar dan strategis yang dilakukan oleh kementerian agama. Hasilnya setelah berjalan kurang lebih 10 tahun sudah bisa dilihat cukup menggembirakan. Melihat kenyataan itu, akibatnya banyak pimpinan STAIN dan IAIN ingin melakukan hal yang sama. Saya sebagai orang yang dari awal terlibat langsung dalam melakukan perubahan hingga sekarang ini, di mana-mana tatkala ditanya tentang seharusnya perguruan tinggi Islam ke depan, selalu menjawab agar seluruh STAIN dan IAIN segera diubah menjadi UIN, tanpa terkecuali. 

Menunda-nunda pemberian ijin perubahan itu, hanya akan memperpanjang sejarah kemunduran Islam, yang sesungguhnya sudah terjadi sejak lama. Selain itu, dengan mempertahankan keadaannya semula, lembaga seperti STAIN dan IAIN juga tidak selalu berhasil menyelesaikan problem-problem bangsa selama ini. Sebab dengan terlalu banyak lulusan fakultas/jurusan tarbiyah, syari’ah, ushuluddin, dakwah dan adab, -------sekalipun sarjana itu masih sangat diperlukan, jumlahnya tidak perlu harus terlalu banyak. Pada saat sekarang dan juga mendatang, bangsa ini memerlukan sarjana teknik, kedokteran, sains, ekonomi, psikologi, humaniora dan lain-lain yang mampu memahami kitab suci dan sejarah nabinya. Mereka itulah yang disebut sebagai ulama yang intelek sekaligus professional. Sarjana dengan identitas seperti itu akan lahir dari UIN dan bukan dari STAIN dan atau IAIN. Oleh karena itu, jika para tokoh Islam benar-benar ingin meningkatkan peran PTAIN, maka perubahan kelembagaan tersebut sudah sangat mendesak, dan tidak perlu ditunda-tunda lagi. Wallahu a’lam.

Source : Prof.DR.H.Imam Prayogo